"17 yang sedang dirawat, dua orang sudah pulang dan satu pasien asal Sukabumi meninggal dunia," ujar Direktur Medik dan Keperawatan Hasan Sadikin, Nucky Nursjamsi di RSHS, Kamis.
Nucky mengatakan, 17 pasien tersebut berada dalam kondisi normal atau saluran pernafasannya tidak mengalami gangguan. Sehingga, pihak RSHS tidak perlu melakukan operasi pengangkatan dan hanya dilakukan pengecekan secara intensif.
Sementara untuk pasien yang meninggal, kata dia, saat datang ke RSHS pada tanggal 16 Desember kondisinya sudah mengalami gangguan pernafasan.
Pasien berumur 15 tahun tersebut menghembuskan nafas terakhirnya pada 19 Desember, meski telah mendapatkan perawatan intensif di ruang isolasi khusus.
Nucky menjelaskan, saat itu tim dokter langsung melakukan trakhestomi (membuat jalan nafas). Namun ternyata pasien mengalami trombosipeni atau kekurangan trombosit yang harusnya 300.000, namun hanya 100.000.
"Ini merupakan satu-satunya pasien yang meningal di RSHS selama 2017 ini karena ketika dikirim ke sini, kondisinya sudah cukup parah. Sementara untuk tahun lalu tidak ada yang meninggal," katanya.
Dari data Dinas Kesehatan Jawa Barat, jumlah kematian akibat difteri pada tahun 2017 mengalami peningkatan apabila dibandingkan tahun lalu. Pada 2016, terjadi 221 kasus difteri dengan angka kematian mencapai 10 orang.
Untuk tahun 2017 ini kasus penyakit difteri di Jawa Barat tercatat mencapai 116 kasus dengan jumlah angka kematian sebanyak 13 orang.
Out Of Topic Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon